cerita

Gondes Forever: Gini, deh!

Gondes Forever

*Gini, deh !*

Fiksi Iwan Samariansyah

Namanya Wagini, panggilannya Gini. Tapi oleh teman-temannya dipelesetkan menjadi Wagitu, dipanggil Gitu. He he he..

Di kelas ia ranking satu, dari bawah. Tak heran ia sering dilabeli dan dibuli sebagai murid, maaf, terbodoh di kelas V.

“Rapornya kebakaran, merah semua. Satu-satunya nilai yang biru cuma olahraga. Oleh pitu, pitulungan!” kata Pak Kasikun, guru kelas kami.

Meski sekelas, namun usia Gitu, eh, Gini, lebih tua empat tahun dari saya. Maklum, ia tiga kali tinggal kelas, di kelas I, II dan IV. Tak heran badannya paling bongsor di antara kami.

Bahkan ia satu-satunya murid perempuan yang sudah M! Sebuah kondisi “langka” yang membuat ia makin sering dibuli, dipanggil dengan sebutan “Mbokne Dhewor” oleh teman-teman sekelas.

Dhuuhh….

Harus diakui, Gini memang lemah di pelajaran apapun. Apalagi yang namanya matematika, sama sekali babar blas gak nyanthèl. Menghitung 2+1 saja harus pakai bantuan biting (lidi). Kalau soalnya mencongak, ia buru-buru ngumpet di bawah bangku, takut ditunjuk!

Pelajaran sejarah juga begitu, kacau-balau. Soal apapun yang pakai kata tanya kapan, pasti dijawabnya dengan tanggal HUT kemerdekaan RI. Misalnya kalau ditanya, “Kapan Boedi Oetomo didirikan?”, Gini pasti menyahut lantang, “17 Agustus 1945!”

Ha ha ha!

Sementara jika pertanyaannya pakai kata siapa, maka secara konsisten akan ia jawab dengan nama presiden RI pertama. Pak guru bertanya, “Ni, siapa penemu radio?” Jawab Gini, “Ir. Soekarno!”

Wk wk wk!

Tak pelak ia selalu keluar kelas paling buncit kalau pak guru membuat kuis “Siapa Benar, Pulang.” Lha gimana lagi, pertanyaan diputer-puter sampai Timor Timur pun, njawabnya cuma 17 Agustus 1945 dan Ir Soekarno!

Kocak tenan!

Maka kadang guru merasa kasihan. Di tengah kuis, diluncurkanlah pertanyaan khusus buat Gini nan dhenok-dheblong seorang. “Ni, kapan Indonesia merdeka?” Gini pun dengan lantang menjawab, “17 Agustus 1945!”

Kawan-kawan bersorak-sorai, “Pinteeer!!” Semua berdiri mengantarkan kepulangan Gini ke pintu kelas sambil terkekeh-kekeh.

Itu belum kalau Gini nyanyi, wuiih.. heboh! Bukan karena suaranya teramat merdu, tapi karena seperti iklan Panth*r.. nyaris tak terdengar! Sudah gitu badannya terayun-ayun ke depan seperti mau rubuh! Alih-alih mendengarkan lagunya, murid-murid malah ribut berteriak, “E e e.. awaaass! E e e… Awoaaass!”

Tapi ya gitu, deh! Gini tak pernah marah meski setiap hari jadi bahan bulian. Ia pede saja menerima ledekan guru dan teman-temannya dengan senang hati. Sudah kebal!

“Lha memang aku goblok kok, mau apa lagi, ha ha ha!” ujarnya dengan wajah bungah.

Jiaan, ki bocah.. goblok kok ra katam-katam, tur bangga pisan!

Jarang loh manusia yang gemoblok kayak Wagini. Yang keminter lah sak arat-arat! Takona cah Kagama yen ra percaya, ha ha ha!

Suatu hari, Pak Kasikun bertanya ke murid-murid perihal cita-cita jika besar nanti. Semua menjawab: insinyur, dokter, guru, pilot, nakhoda, masinis. Sungguh standar!

Saya sendiri, biar agak beda, menjawab pengin jadi tukang bikin pesawat terbang. He he… kan keren seperti Pak Habibie!

“Kalau kamu pengin jadi apa, Met?” tanya pak guru ke Slamet, jagoan matematika.

“Saya pengin jadi tukang perahu saja, pak!” jawab Slamet mantap.

“Looh, matematikamu jos kok cuma pengin jadi tukang perahu?” tanya Pak Kasikun heran.

“Ya, karena bayarannya satus sewidak ewu!” jawab Slamet polos.

“Hah hah.. itu sih lagu, Met!” kata pak guru geli.

Tapi suasana kelas spontan hening, saat Pak Kasikun mengedarkan pandangan ke Wagini.

“Nhaa.. kamu, Ni, besok kalau besar pengin jadi apa?”

Wagini tercekat. Tak mengira pak guru ujug-ujug bertanya padanya. Ia tolah-toleh dengan wajah bingung. Maunya sih sembunyi di bawah bangku seperti biasa, tapi sudah terlambat. Semua kawan sudah menatapnya lekat-lekat.

“Eh, e… anuu…” kata Gini tergagap.

“Sebut saja, Ni. Bebas kok, mau jadi apa?” kejar Pak Kasikun.

“Nggg.. nganu, jadi mantèn!” jawab Gini tersipu-sipu.

Geerr!! Kontan suara tawa membahana memenuhi kelas.

“Wadhuuh.. cita-cita kok jadi mantèn ki piye critane?” ujar pak guru tergelak-gelak.

“Yang jadi tukang ingsinyur, dokter, guru, kan yang pinter-pinter. Saya bodoh, ya jadi mantèn saja!” tukas Gini sambil nyengir.

Hah hah hah! Ajur juuum!

“Habis jadi mantèn, lalu pengin jadi apa lagi?” kejar Pak Kasikun penasaran.

“Nanti kan bisa sambil buka toko, jualan..,” kilah Gini.

“Wah, bagus itu! Tapi belajar nulis yang baik dulu ya! Karena gak mungkin pemilik toko tulisannya pating pecothot,” pesan Pak Kasikun.

“Halaaah, ngitung saja gak encos, kok mau buka toko. Ya diapusi thok nanti kamu, Ni!” sindir Slamet.

Gini cuma njuwiwi.

Saat saya naik ke kelas VI, Gini lagi-lagi tinggal kelas. Saya lulus, dia naik ke kelas VI. Tapi info dari kawan-kawan, sebulan di kelas terakhir itu, Gini drop out.

“Pasti karena gak berani menghadapi EBTA,” kata Slamet sinis.

Entahlah…

Saat tak sengaja ketemu dengan saya di jalan, Gini bercerita bahwa ia sudah bosan sekolah. “Pelajarannya tidak mutu! Mosok sembilan tahun di SD cuma diajari 17 Agustus 1945 dan Ir Soekarno!” celetuknya sambil mringis.

Bwa ha ha… hasyeeem! Ngakak tenan saya mendengar alasannya yang thok lèh itu…

Mak cempulek, setahun berikutnya ternyata benar, Gini jadi mantèn! Ia dipersunting Dede, urang Sunda.

Weh, sesuai benar dengan cita-citamu, ndhuk! Cabai rawit beli di Klaten. Gede dikit jadi mantèn!

Gak kaget juga sah. Saat itu dianggap wajar belaka perempuan 16 tahun menikah dan punya anak. Istilah Mbah Uti, bocah manak bayi! Hi hi hi..

Saya baru bertemu Gini lagi setelah lulus kuliah tahun 1993. Wooh, ternyata dia buka toko cukup besar di kampung! Rumahnya juga besar dan bagus. Jadi horang kayah!

Yang membuat saya terkejut sak pol-pole, ternyata ia sendiri yang mamanajeri tokonya, mulai merencanakan, kulakan, hingga memproyeksikan keuntungannya. Kok bisa?

“Waoow, Ni, ternyata kamu bisa itung juga!” ujarku takjub.

“Kan ada ini!” ujarnya menunjukkan kalkulator sambil ngikik.

Saya garuk-garuk kepala. Ingat dulu koleksi bitingnya sampai mengkilat karena saking seringnya dipakai. Sekarang bitingnya merek Cas*o. Salut lah!

“Ngomong-ngomong Slamet si jagoan matematika sekarang di mana, Ni?”

“Tuh, di belakang. Dia sedang membantu menata dagangan saya,” jawab Gini.

Wooooh!

Slamet ternyata gak jadi tukang perahu. Ia malah ngasisteni Wagini, orang yang dulu sering ia buli.

Tak beda jauh dengan saya yang batal jadi pembuat montor muluk. Juga kawan-kawan pintar lainnya yang gagal jadi insinyur, dokter, guru, pilot, nakhoda, dan masinis.

Cuma Wagini, si bodoh, yang berhasil meraih cita-citanya secara kaffah.

Yen ngene iki, sejatinya, siapa sih yang goblok dan patut dibuli?

Gini, deh! Bantu jawab ya, ndhes! Aku tak umpetan ngisor bangku sik…

Isiiinn…

Categories:cerita

Tagged as: ,