cerita

Nostalgia SMA (1)

Text: Ahmad Munaji

OSIS – part 1

Jabatan Sekretaris OSIS adalah karir tertinggiku di sekolah. Jabatan itulah yang membuatku lebih dikenal guru dan teman-teman sak sekolah. Jabatan itu pula yang mengharuskanku berbagi waktu antara belajar dan berorganisasi. Juga salah satu saranaku untuk mengenal cewek, hi..hi..(modus.com)

Originality-nya (asline Ndes), iso dadi pengurus OSIS merga aku dijorogke Pak Eman. Pembina OSIS sekaligus Guru Agama itu entah dengan pertimbangan apa koq getol mendorongku ikut maju dalam pemilihan Ketua OSIS.

Track record ku secara organisasi kurang mendukung dibanding 3 balket (bakal ketua) lainnya. Ipam dan Pangat adalah dedengkot Pramuka sejak SMP. Caket satunya cewek, Mira, aktif di Pramuka dan PMR.

Sedangkan aku? Pramuka gak begitu aktif. Pernah ikut lomba Pildarem (Pemilihan Dai Remaja), keok di babak penyisihan. Prestasiku sebagai ketua kelas waktu kelas 1 juga biasa saja. Jadi satu-satunya alasannya mungkin karena nilai Mapel Agamaku menonjol sehingga Pak Eman lebih memperhatikanku, he he..

Instagram.com/timgalihdanratna

Wis mbuh Ndes, sing penting fotoku dan foto balket OSIS lainnya sempat ditempel di dinding / papan pengumuman, ruang guru, WC, bangsal olah raga, dan semua sudut sekolah yang mudah dilihat selama beberapa hari masa kampanye. Tak pelak namaku sempat menjadi trending topic saat itu. Sayang belum jaman internet.

Dari keempat balket itu, hanya Pangat yang dari jurusan IPS. Tiga lainnya IPA. Pada tahun itu jumlah kelas setiap angkatannya adalah IPA 5 kelas, IPS 4 kelas, dan Bahasa 1 kelas.

Karena kurang terkenal itulah maka aku diprotes oleh timses bayangan alias tim yang tidak pernah kubentuk.

“Saya sudah ngajak teman-teman supaya milih kamu. Tapi mereka bilang, ‘Munaji itu yang mana orangnya ya?’ Terus saya bingung njelasinnya,” keluh Wowo, adik kelasku yang getol memperjuangkan.

Gak menang gak patheken, prinsipku. Dan benar saja, hasil tak pernah menghianati proses. Selain faktor kekurangterkenalan, ada faktor lain yang berpengaruh pada perolehan suara ku.

Gerakan IPS bersatu, itulah namanya. Teman-teman IPS menggalang dukungan dengan satu motto yang mempersatukan mereka.

“Kalau urusan cewek kita boleh beda selera, tapi dalam pemilihan Ketua OSIS ini kita harus bersatu,” demikian slogan kordinator aksi.

“Selama ini belum pernah ada sejarah anak IPS jadi Ketua OSIS. Mumpung sekarang ada kesempatan, ayo kita gunakan. Jangan lupa pilih PANGAT. Sekali lagi Pe A eN Ge A Te,” susul timses lain.

Dan sesuai analisa para pakar, hasil quick count sama persis dengan real count. Sebab menghitung seribu dua ratusan suara gak pakai lama. Suara Pangat jauh mengungguli balket lainnya. Sehingga dia dinobatkan sebagai Ketua OSIS kami.

Kami berempat pun dipanggil masuk ke ruang kepala sekolah. Oleh Kepsek dan Pembina OSIS kami ditunjuk berbagi peran. Pangat Ketua, Ipam Wakil Ketua, saya Sekretaris, dan Mira Bendahara.

Kami pun diminta segera menyusun kabinet OSIS tahun ajaran 84/85 itu dengan tenggat waktu seminggu sebelum pelantikan. Dan sikon nya sangat kondusif, no demo at all.

Sebagai sekretaris, tugas dan tanggung jawabku antara lain menyiapkan konsep surat, membuat proposal kegiatan, membuat laporan pertanggungjawaban, dsb.

Untuk mendukung kelancaran itu, aku menerima warisan inventaris. Namanya mesin ketik (mestik) merek Brother. Mestik itu menjadi sahabatku sejati. Hampir tiap berangkat sekolah mestik itu kutenteng. Pulang sekolah kubawa lagi. Kadang kubawa naik angkot, dengan ongkos 75 rupiah. Tapi lebih sering nebeng teman yang punya motor dan jalurnya searah.

Pernah suatu kali pas sedang jalan kaki berangkat ke sekolah aku ditawari naik motor oleh adik kelas, cewek. Aku kikuk setengah hidup Ndes. Sebab aku belum punya SIM C, dan naik motor pun gak trampil. Tapi mau mbonceng koq yo isin. Akhirnya kuberanikan diri mboncengin dia dengan kecepatan lambat sambil berharap tidak ada cegatan polisi….

Lain waktu aku mbonceng Heri, teman main dan saudara jauh yang sekolahnya tetanggaan dengan sekolahku. Dia naik motor Honda GL. Aku duduk di belakang dengan deg-degan.

Pasalnya, karena berangkat mepet, Heri memacu motornya lumayan kencang. Pas sampai tikungan dekat Rujak Belong, tiba-tiba ada becak menyeberang. Heri pun menghindar supaya tidak menabrak becak itu. Eh, ternyata di samping becak ada anjing sedang lari, dan gubraakkk….
motor kami menabrak anjing dan kami pun terjatuh.

Alhamdulillah motor gak rusak dan kami pun tidak ada yang luka serius, cuma kakiku lecet dan celanaku sobek. Sambil menahan sakit kami melanjutkan perjalanan ke sekolah.

Mestik juga yang kugunakan untuk mengisi data pribadi di Kartu OSIS untuk siswa baru kelas 1 (saat itu aku naik kelas 3). Dari sekitar 400 anak, kuambil dan kukoleksi sekitar 10 foto-foto adik kelas cewek yang menurutku manis atau cantik. Jadi aku punya data lengkap mereka : nama, tanggal lahir, alamat rumah, dan pas foto nya, ha ha…

Apa definisi manis dan cantik menurutmu Ndes ? Kalau menurutku sih cantik lebih menonjol sisi fisik, sedang manis lebih mengarah kepada sikap maupun tutur katanya. Makanya ada anak cantik saja, manis saja, dan ada pula yang dua-duanya.

Terserah, sak karepmu wae Ndes. Ini soal untuk UAS hari ini ya. Jangan lupa diisi.

—-Insya Allah cerita tentang OSIS masih berlanjut—

Categories:cerita

Tagged as: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s