profil

Menggerakkan Semesta dengan Ketertarikan

Manusia adalah makhluk yang memang tiada tara. Dibekali otak untuk berfikir dan juga rasa untuk mengindera. Dengan mengikuti rasa, maka semangat hidup akan menyala mengikuti arah ketertarikan kita. Dan semesta pun senantiasa mengikutinya.

Mengolah rasa, itulah prinsip hidup Mutia Amelia Febriana. Sehingga dalam usia yang masih muda, namun sudah mampu menggenggam dunia. Bahkan pelbagai penghargaan nasional tentang seni dan arsitektur budaya pun diraihnya.

Tia begitu ia biasa dipanggil. Alumni SMA Negeri 2 Purwokerto kelas akselerasi lulusan tahun 2013. Selanjutnya berkuliah di Jurusan Arsitektur, Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta. Tia sudah menunjukkan ketertarikan dan kepakaran di bidang arsitektur budaya sejak mahasiswa.

***

Mutia Amelia Febriana: pakar arsitektur budaya

“Semua berasal dari ketertarikan sehingga saya sangat menikmatinya untuk menjalankan pekerjaan saya yang saya tidak anggap sebagai beban sebuah tugas. Itu seperti sudah menyatu dengan tubuh dan kehidupan sehari hari saya”, jelas Tia.

Semua bermula dari ketertarikan Tia akan seni, budaya dan bahasa. Terutama Bahasa Jepang. Meski pun hanya sempat kursus Bahasa Jepang selama satu bulan sewaktu SMP. Namun Tia terus mempelajari Bahasa Jepang dari lagu dan film. Ia juga aktif mengikuti kelompok belajar Bahasa Jepang. Dari situlah, Tia berteman akrab dengan seniman Jepang.

Dari diskusi-diskusi tersebut dan kepiawaiannya berbahasa Jepang serta keahlian di bidang arsitektur, Tia mendapat kesempatan untuk menjadi peneliti dalam proyek penelitian qseni di Indonesia dan Taiwan untuk menelisik sejarah dengan suara.

Melanjutkan ketertarikannya pada arsitektur budaya, Tia juga ikut mendapatkan riset proyek mengenai Ziarah Makam Raja Mataram Kotagede dengan London Interdisciplinary Research Center, University of Cambridge di Inggris.

***

“Dan dengan sincere saya melakukannya, maka saya selalu percaya semesta pasti akan mendukung apapun keadaannya”, demikian prinsip Tia.

Dengan prinsip tersebut dan keahlian di bidang arsitektur, Tia berhasil memenangi beberapa penghargaan nasional. Salah satunya adalah Juara 3 Desain Kawasan Simpang Lima Takengon, Aceh oleh IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia).

Sejak Agustus 2019, Tia dipercaya menjadi peneliti pada program  Revitalisasi Desa Adat Pascabencana di Desa Adat Gurusina. Studi tersebut merupakan program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saat ini Tia sedang menyelesaikan manuskrip buku dan public lecture hasil dari program revitalisasi rumah adat di Gurusina, Flores.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s