wisata

Telaga Kumpe: Bekas Telapak Werkudara

Banyak cerita dari tlatah Banyumas. Legenda yang jarang tercerita adalah bagaimana terbentuknya Gunung Slamet. Tentu saja ini tidak ilmiah, tetapi cerita orang jaman dulu saja. Alkisah, Bima atau Werkudara perlu menancapkan pasak di pulau Jawa, yaitu dengan meletakkan Gunung Slamet di tengah-tengah pulau.

Nah, sewaktu meletakkan Gunung Slamet, kedua kaki Werkudara menapak di dua tempat. Kaki kiri di Kaligua, dan kaki sebelah kanan menapak di daerah Sambirata, Cilongok. Kaki kanan yang menapak ini karena menahan berat Werkudara dan beban Gunung Slamet, maka melesak ke dalam dan membentuk sebuah telaga yang diberi nama Telaga Kumpe.

Telaga Kumpe, Gunung Lurah, Cilongok (Foto Hanan Hanifa)

Begitulah cerita nenek moyang tentang bagaimana terbentuknya Telaga Kumpe. Entah benar atau tidak. Tapi kayaknya tidak terlalu benar. Memang bentuknya mirip bekas telapak kaki. Tentunya yang bertelanjang kaki alias barefoot, karena jaman dulu belum ada sepatu Nike Favorfly. Telaga Kumpe hanya berjarak 18 kilometer dari kota Purwokerto. Jadi cukup memakan waktu perjalanan sekitar 30-50 menit saja.

“Akses ke Telaga Kumpe cukup lumayan, karena jalannya relatif terjal. Jadi pastikan mobil atau motor cukup prima,” demikian saran Hanan Hanifa yang baru menikmati kunjungan ke Telaga Kumpe.

Kalau anak milenial jaman sekarang, tentunya lebih percaya kalau Gunung Slamet adalah hasil erupsi volkanik yang bersifat andesitik pada jaman Kuarter. Hasilnya Gunung Slamet bermorfologi tipe strato volcano karena tersusun oleh endapan piroklastik dan lava berseling-seling. Perselingan kontak kedua batuan tersebut menyebabkan munculnya mata air panas di seputaran Gunung Slamet, seperti Guci dan Baturaden. Dan tentunya Telaga Kumpe, hanya merupakan morfologi cekungan yang terisi oleh air belaka.

***

Meski pun begitu, Telaga Kumpe merupakan salah satu sudut wilayah Banyumas yang asri. Asyik dikunjungi sebagai tempat wisata dengan bea masuk hanya lima ribu saja. Udaranya pun masih segar, belum terpolusi oleh asap kendaraan bermotor yang menjelaga. Pemandangan di sekitar pun masih ijo royo-royo menyejukkan mata. Perahu-perahu kecil pun disediakan untuk disewa, bisa juga untuk selfie dengan pose terkini, dengan tambahan lima ribu juga. Bahkan perahu bisa dinaiki bertiga.

“Telaga Kumpe sekarang sudah tertata apik. Bisa buat wisata sepeda atau pun lari lintas alam,” begitu jelas Latief Muchozin, tokoh masyarakat Sambirata.

Pemerintah Daerah, telah menggelontorkan dana sekitar seratus juta rupiah untuk merenovasi Telaga Kumpe. Alhasil, sekarang Telaga Kumpe telah berdandan cantik, siap dikunjungi pemujanya.











Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s