Uncategorized

Untuk Bisa Berhasil Kuncinya Integritas

Oleh Iwan Samariansyah

Hasil wawancara pada tahun 2015 dengan Ir Arif Wibowo, MBA – Direktur Utama PT Airfast Indonesia

Untuk Bisa Berhasil Kuncinya Integritas

Dilahirkan dan dibesarkan dari lingkungan keluarga guru, Arif Wibowo mengenang masa kecilnya dengan mata berbinar-binar. ”Saya beruntung dibesarkan oleh orang tua yang sangat peduli pada pendidikan,” ujarnya saat ditemui tim Penyusun buku di rumahnya yang asri di kawasan Tangerang, beberapa waktu lalu.

Kedua orang tua Arif bekerja sebagai guru di lingkungan Departemen Agama, ayahnya guru agama di SMA sedangkan ibunya di SMK. Hanya saja sewaktu Arif masuk SMA, ayahnya sudah tidak lagi mengajar di tempatnya bersekolah, SMA Negeri 2 Purwokerto. ”Saya enam bersaudara. Nomor satu laki-laki, nomor dua perempuan dan nomor tiga saya. Tiga adik yang lahir sesudah saya perempuan semua. Jadi laki-lakinya memang cuma dua,” kisahnya.

Masa kecil Arif dan keluarganya dilewatkan di Kota Kripik. Dan begitulah sejak TK, SD, SMP dan SMA Arif pun bersekolah di Purwokerto. Dia ingat beberapa temannya yang sekolah sejak masa kanak-kanak. ”Teman saya dari TK sampai SMA itu bernama Elena. Kalau yang dari SD itu namanya Erik. Saya SMP nya di SMP 2, bareng dengan Erik. Juga ada Widya tetapi dia SMP nya masuk ke SMP 1,” kenang Arif. 

Dia mengakui kehidupannya banyak dipengaruhi orang tua yang kebetulan guru. Dengan latar belakang keluarga kelas menengah dan keluarga besar, wajar bila sesekali di rumah selalu terjadi gesekan-gesekan kecil. Entah itu rebutan kamar mandi, acara televisi ataupun perhatian dari orang tua. Tetapi semuanya dapat terselesaikan dengan baik. ”Dalam menyelesaikan masalah, ayah dan ibu selalu bersikap adil dan sabar,” tuturnya.

Dulu selain berprofesi sebagai guru, sang Ibu juga aktif berorganisasi di Golkar. Bahkan pada beberapa Pemilu jaman Orde Baru menjadi Juru Kampanye. Belakangan kesibukan sang Ibu bertambah dan pernah menjadi anggota DPRD Banyumas. ”Jadi karena anak guru maka kita semua dididik supaya rajin belajar. Saya kagum dengan cara orang tua saya mendidik kami.Lha, saya yang anaknya cuma dua saja kerap kewalahan kok,” ujarnya, tergelak.

Hanya saja, kata Arief, dibandingkan jaman dulu dia melihat memang ada perbedaan situasi dan kondisi pendidikan dengan anak-anak jaman sekarang. Kalau sekarang behaviournya memang sudah benar-benar berubah dengan pergaulan yang juga berbeda. Jadi pendekatan orang tua sekarang pada anak-anaknya juga relatif berbeda. 

”Anak sekarang lebih kritis kepada orang tua, dan itu bukan berarti dia sudah tidak menghormati dan sayang sama orang tua, cuma cara bicaranya dan cara menyampaikan sesuatu itu memang berbeda dengan jaman kita kecil dulu. Itu satu hal yang cukup membingungkan kita karena tidak sesuai dengan pengalaman kita dulu,” tukasnya. 

Yang menarik, fighting spirit dari teman-teman yang dikenal Arif sejak sekolah dulu sama, yaitu tingginya semangat bersaing dan berkompetisi di sekolah. ”Ingin dapat ranking, ingin jadi juara kelas, kayaknya semua kita lakukan dengan senang hati. Masalah hasilnya memang soal lain. Orang nanti jadi The Top atau The second ditentukan saat dia duduk di bangku sekolah passionnya mau kemana,” kata Arif. 

Yang jelas, di daerah seperti Purwokerto itu tampak sekali bahwa persaingan berjalan sehat sehingga hasilnya cukup bagus. Anak-anak muda Purwokerto menjadi orang yang terbiasa berkompetisi, terkadang menang dan terkadang kalah. Tetapi semuanya berjalan dengan adil dan terbuka tanpa ada rekayasa sedikitpun. Termasuk dalam soal mendapatkan beasiswa sekolah.  

Sebagai pelajar yang kecerdasannya di atas rata-rata, Arif selalu dapat beasiswa. Ini cukup membantu beban kedua orangtuanya dalam membiayai sekolah. ”Saya masih ingat waktu SMP saya dapat beasiswa yang besarnya perbulan Rp 7.500,- artinya kalau pertahun kan Rp 90ribu. Yang namanya anak guru tahu sendirilah, kan gaji guru nggak besar jadi bisa dapat beasiswa itu cukup membesarkan hati,” kata alumni Teknik Mesin ITS Surabaya itu. 

Arif mengaku tidak begitu aktif berorganisasi semasa SMA. Tetapi dia juara mengaji di sekolah. Yang dia keluhkan sekarang ini, guru-guru banyak yang ndak fairness. Dia melihat bahwa pendidikan sekolah di Jepang cukup bagus untuk ditiru. 

”Anak saya lama di Jepang, kalau dikasih PR juga dikasih kunci. Berapa yang benar dan berapa yang salah. Nanti lapor kepada gurunya. Jadi belajar kejujuran. Soal integritas. Di sana juga kalau berangkat sekolah bareng-bareng, dan murid diajarkan untuk tidak takut bertanya. Ada sesi khusus dimana anak itu harus mengeluarkan pendapat. Guru merupakan bagian dari sistem yang besar itu,” ujarnya.

Sedangkan di Indonesia, situasi pendidikan yang ada parah sekali. Konspirasi soal kecurangan UN misalnya bisa sampai level kabupaten. Jadi siswa-siswi dikasih bocoran soal Ujian Nasional, dan memang faktanya begitu. Berbeda jauh dengan jaman ketika Arif dan teman-teman segenerasinya dulu bersekolah di Purwokerto. ”Bahkan bimbingan test juga nggak seperti sekarang banyak menjamur,” ujarnya. 

Tentang keluarganya, Arif bercerita bahwa kakaknya yang sulung sudah memperoleh gelar Doktor (S-3) dan menjadi dosen di Unsoed. Yang kedua alumni Unsoed juga, Cuma karena perempuan maka dia ikut suami. Lantas dia sendiri nyeleneh karena kuliah jauh sendiri di Surabaya, tepatnya di ITS ambil jurusan Teknik Mesin. Adiknya yang keempat dan kelima juga lulusan Unsoed dan si bungsu masuk Kedokteran UNS Solo.

Yang kedua Unsoed, yang ketiga saya, yang keempat Unsoed juga, yang kelima Unsoed dan yang terakhir Kedokteran UNS. Arif diterima di ITS melalui jalur PMDK alias tanpa tes, bisa jadi karena nilai-nilainya yang di atas rata-rata. Kenapa pilih ITS? Padahal teman-temannya kebanyakan melanjutkan kuliah di Yogyakarta, Bandung atau Semarang. ”Wah tadinya saya ingin ke Teknik Sipil ITB Bandung, tetapi ndak tahu kenapa kok malah pas mengisi formulir PMDK saya pilih Teknik Mesin ITS. Eh diterima. Ya sudah, jalani saja,” katanya.

Waktu kuliah dia punya taktik belajar yang menarik. Arif memilih kost bersama anak-anak yang cerdas. Selain itu, dia juga aktif pula di organisasi kemahasiswaan yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hanya saja keaktifannya itu untuk memperluas pergaulan sebab ada forum diskusinya. Dengan diskusi maka dia bisa belajar banyak dari teman-temannya. Karena memang otaknya memang encer, Arif menyelesaikan kuliahnya selama empat tahun. Ngebut. Jadi masuk 1985 dan pada 1988, dia sudah selesai teori. 

Ada pengalaman menariknya saat dia kuliah. Ceritanya suatu kali, dia harus menempuh empat mata ujian. Saking stresnya pernah yang dia kumpulkan adalah oret-oretan kertas ujian bukan jawaban ujian saya, baru setelah tiga hari baru ketemu. Dia sempat gemetar saat bertemu dengan dosen pengampu mata kuliah tersebut, namun karena dia jujur dan bercerita apa adanya, maka dosen itu mau menerima alasannya. Lulus. 

Saya memang ingin cepat-cepat selesai kuliah, bahkan saat akhir tahun 1988 saat mengerjakan skripsi dia sudah diterima di Schlumberger. ”Lulus sih cuma karena belum dapat gelar sarjana ya nggak diteruskan, saya juga test di Garuda dan Krakatau Steel. Dan akhirnya diterima dua-duanya, tetapi saya ambil Garuda karena lebih duluan memberikan jawaban. Lulus pada Juli 1989, saya ke Kantor Garuda di Jakarta pada Januari 1990,” ujarnya. 

Dia juga masih berkeinginan melanjutkan sekolah. Rencananya kalau tidak dapat tiket beasiswa S-2 maka dia akan keluar dari Garuda. Sewaktu masuk gaji pertama saya masih Rp 150ribu waktu itu, kemudian naik sedikit menjadi Rp 250ribu, sementara di Schlumberger untuk jabatan yang sama sudah dapat USD 2.000 di saat dollar Rp 2.300,- sementara Krakatau Steel Rp 375ribu dan sudah dapat rumah. ”Saya tetap pilih Garuda. Lebih miskin tetapi bisa dapat beasiswa untuk sekolah,” katanya.

Arif punya catatan menarik tentang salah satu teman SMA nya. Teman sebangkunya di SMA bernama Chandra Budijaya. Dia melihat bahwa integritas dan passion Chandra berbeda dengan dirinya. Dan memang terbukti setelah keluar dari lingkungan sekolah, keduanya mengambil jalan berbeda. Chandra kini bekerja mandiri sebagai pengusaha, sedangkan Arif meniti karir di BUMN besar. 

Dia masih ingat betul bahwa temannya itu paling takut kalau sudah mata pelajaran Matematika yang dipegang Ibu Sujiati. Chandra selalu grogi kalau sang guru yang dikenal tegas itu sedang mengajar, dan karena bergaul rapat, Chandra kerap mengeluh pada Arif soal kelemahannya dalam mata pelajaran Matematika itu. Sebagai teman tentu saja Arif selalu bersedia untuk membantu. 

”Dari Chandra inilah saya justru belajar. Bahwa seseorang itu setelah keluar dari lingkungan sekolah yang paling penting adalah integritas dia. Kebetulan passion Chandra untuk bekerja itu berbeda. Kebetulan saya dengan dia sebangku dan bergaul rapat, suka bercanda. Nyatanya kalau dari segi penghidupan justru Chandra itu lebih berhasil dari saya. Hebat, usahanya maju dan dia jagoan dalam soal marketing,” katanya.

Masalahnya, setelah masuk ke BUMN penerbangan besar seperti Garuda Indonesia, Arif juga tidak hanya menekuni bidang engineering yang menjadi basis ilmunya. Dalam perkembangan karirnya dia malah lebih sering berurusan dengan urusan manajemen dan marketing pula. Persis dengan yang kemudian ditekuni oleh teman sebangkunya itu tadi ! ”Saya nggak ada apa-apanya dibandingkan dia,” ujarnya. 

Dari situlah Arif mengambil kesimpulan bahwa yang namanya kemampuan akademik itu hanyalah soal basic. Namun seseorang itu berkembang atau tidaknya bukan hanya ditentukan oleh kemampuan akademis saja melainkan juga multi dimension. ”Bagaimana mengembangkan jaringan, terus bagaimana merencanakan karir ke depan semua itu tergantung visi orang itu,” kata Arif. 

Dia mempelajari itu semua dari pengalaman di lapangan dan belajar dari buku-buku yang dia baca. Perusahaan yang besar sekali di dunia macam General Electric (GE) yang punya pegawai sampai 300 ribu orang di seluruh dunia dan sudah ratusan tahun berdiri ternyata sustainability itu gara-gara apa? Ternyata karena kemampuan individu-individu di GE untuk mengembangkan diri dan itu merupakan kemampuan soft skill. 

”Ini yang membuat survive dan kita bisa masuk menjadi orang yang kompetitif. Ini saya kira yang perlu dibangun untuk adik-adik kita. Perlu kita tularkan untuk adik-adik kita di SMA Negeri 2 Purwokerto. Memang benar, setiap orang itu ada nilai A, B, C, D nya. Akan tetapi nilai baik dan buruk itu tidak menentukan seseorang akan menjadi apa sebenarnya, tetapi dia akan ditentukan oleh proses perjalanannya itu. Dan itu butuh bimbingan tidak bisa jalan dengan sendirinya. Ada proses mentoring disitu, nah dalam proses mentoring itu kita yang lebih senior bisa membaginya pada mereka lewat sebuah leadership centre,” ujarnya.

Leadership centre yang dia bayangkan itu seperti sebuah yayasan non profit dimana para alumni SMA Negeri 2 Purwokerto nantinya saling berkontribusi dalam yayasan tersebut. Namun tetap harus ada pengurus yang profesional untuk menangani kegiatan di yayasan tersebut. Ini akan menjadi semacam knowledge management centre yang bermanfaat bagi alumni SMA Negeri 2 Purwokerto mengasah dirinya. 

”Coba kita lihat perjalanan kakak kelas kita Pak Kuntoro Mangkusubroto. Saya pernah menyimak perjalanan karir beliau yang hebat itu sewaktu beliau membenahi PN Timah, dari yang zero level sampai akhirnya bisa dibawa ke Tbk, ternyata syaratnya sederhana yaitu orang harus punya integritas. Saya lihat juga dari orang-orang bule itu ternyata semuanya bicara soal integritas,” kata Arif.

Menurut dia, seseorang itu kalau dia tidak jujur pada pekerjaannya, tidak dikerjakan dari A – Z maka dia akan mudah jatuh ke bawah. Orang-orang dengan tradisi pendidikan barat, kata Arif, kalau menjudge seseorang ukurannya selalu pada soal integritas, jadi menghukum juga dikaitkan dengan itu. ”Orang bule itu sangat fair dalam soal menghargai orang lain. Makin tinggi integritas anda, maka anda akan semakin dihormati,” kata Arif. 

Itu juga yang terjadi di Jepang. Misalkan dia ahli metalurgi terus dia melakukan inspeksi tetapi dia melakukan kebohongan meskipun membela perusahaan, namun akhirnya dia tetap dipecat. Ada seorang profesional di sana yang berkarir selama 20 tahun kemudian menjadi CEO dan dia sustainable di posisi itu karena satu hal yaitu dia membangun integritas. Setelah kompetensi, baru kemudian integritas. Dia mengkader para pemimpin perusahaannya dengan cara yang unik. Dia selalu mengajak para karyawannya ke acara-acara non formal dulu, dites disitu dan kemudian dari situlah dia menemukan pemimpin-pemimpin baru diperusahaan itu.

”Untuk kasus Indonesia biasanya tergantung perusahaannya, kalau sudah perusahaan Tbk maka perusahaan itu dipaksa untuk berintegritas. Sebab cara pelaporan perusahaan itu ke publik saja sudah membutuhkan integritas, mana bisa main-main. Biasanya itu kalau perusahaan itu sudah Tbk dipaksa untuk transparan, profesional dan berintegritas. Kalau kehilangan kepercayaan bisa habis reputasinya,” ujarnya. 

Di Amerika sudah terjadi satu pelajaran berharga pada Lehman Brothers ketika perusahaan itu membuat laporan palsu, dan akhirnya membuat ambruk. Karena itulah kalau perusahaan mau panjang usianya maka perusahaan tersebut harus didasarkan pada integritas. 

Arif punya kegemaran membaca buku-buku motivasi hidup. Dia sudah membaca buku-buku Dale Carnegie sejak masih sekolah dulu. Dan dia juga suka membaca biografi-biografi tokoh terkemuka di dunia politik dan bisnis. Itu yang ikut membentuk kepribadian dirinya. Di Garuda dia kemudian ditugaskan mendalami pemasaran jadi bukan di bagian Teknik lagi. 

Karena sekolah, akhirnya gaji Arif dinaikkan. ”Saya naik jadi Kepala Cabang Garuda mulai 19 September 1996 jadi manajer OJT ikut anak-anak mekanik, saya sudah keluar dari Teknik pada 1994, specialis structure Aircraft, kepala seksi sudah menanti. Kemudian balik jadi commercial di Garuda akibat suka berhubungan dengan orang. Ya memang berat tantangannya, apalagi saya Insinyur masuk ke Niaga,” ujarnya. 

Di bagian Niaga Garuda, Arief dipressure oleh sejawat-jawatnya, namun dia terus bertahan sekuat tenaga. Dan dia berhasil. Dia akhirnya diangkat menjadi Manajer untuk kerjasama antar perusahaan penerbangan dan anak-anak buah dia banyak yang mantan GM Branch Office. Setelah Garuda jadi Tbk maka perusahaan penerbangan milik negara itu terdorong untuk lebih transparan, 

Kini setelah menjadi eksekutif puncak di anak perusahaan Garuda yaitu Citilink, Arif Wibowo tertantang untuk membangun perusahaan itu sebaik-baiknya. Dia punya contoh bagus di Garuda, yaitu mantan atasannya. Dia menyebut nama-nama seperti Emir Sattar, Wiweko, Robby Johan dan juga mantan atasan langsungnya yang orang Manado bernama Robert Waloney (kini Direktur di PT Angkasa Pura). 

”Tahun 1996 itu tahun saya masuk ke manajerial, saya jadi Kepala Seksi, pada 1999 saya jadi GM di bagian aliansi kerjasama perusahaan penerbangan, pak Robert inilah yang mengajak saya ke sana. Waktu itu dia adakah Vice President untuk Marketing dan Kerjasama. Dia minta saya mengurusi kerjasama antara Sempati dengan Garuda. Saya buktikan bahwa saya bisa. Sayangnya habis tanda tangan dan gol, Sempati nya malah bubar gara-gara banyak hutang yang tidak sanggup dia bayar,” kata Arif. 

Dia juga pernah berangkat ke Los Angeles (AS) untuk bertemu dengan salah satu mitra Garuda di kota itu juga disuruh oleh Waloney. ”Waktu saya dikasih assignment itu maka saya anggap itu tantangan. Padahal Bahasa Inggris saya kan masih gaya Banyumasan. Tetapi saya persiapkan matang dulu untuk berdiskusi dengan orang-orang bule itu. Saya hafalkan di luar kepala, dan akhirnya saya berhasil,” ujar Arif. (***)

Categories:Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s