Uncategorized

Diskusi Membedah Industri Migas Indonesia

Dunia industri migas memang masih dianggap sebagai industri menara gading, dan sering kurang dipahami oleh masyarakat, sehingga sangat mudah untuk menjadi komoditas politik. Untuk lebih melakukan sosialisasi tentang industri migas, Paguyuban Asmari Kertajaya mengadakan webinar dengan mengundang Maghfira Ramadani, peneliti migas dari Institut Teknologi Bandung untuk melakukan pemaparan mengenai dunia migas.

Maghfira Ramadani atau lebih akrab dipanggil Mas Afi, adalah alumni SMA Negeri 2 Purwokerto lulusan tahun 2013. Mas Afi kemudian melanjutkan pendidikan untuk kuliah di Teknik Perminyakan ITB. Sekarang ini beliau menjadi peneliti di Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung.

Mas Afi memaparkan bahwa industri migas cakupannya cukup luas karena meliputi industri hulu berupa eksplorasi dan produksi migas sampai ke hilir berupa pemprosesan migas menjadi produk-produk yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu, perdagangan atau trading migas juga merupakan komponen yang cukup vital dalam industri migas.

Produk migas sendiri tidak hanya digunakan untuk bahan bakar kendaraan, tetapi juga menjadi bahan baku untuk industri pupuk dan petrokimia. Bahkan hampir semua barang-barang yang dikonsumsi masyarakat berasal dari bahan baku minyak dan gas bumi.

“Produksi minyak bumi Indonesia sendiri merupakan bisnis dengan lifecycle yang lama, bisa mencapai 30-40 tahun, mulai dari proses eksplorasi pencarian sumberdaya migas sampai tahap pengembangan dan produksinya,” demikian papar Afi.

Afi juga menjelaskan bahwa produksi minyak bumi di Indonesia mengalami jaman keemasan pada tahun 70an sampai 90an. Namun sejak Era Reformasi, produksi minyak bumi Indonesia terus mengalami penurunan dari 2 juta barel per hari menjadi sekarang ini menjadi separuhnya di sekitar 700 ribu barrel per hari.

Namun demikian, konsumsi migas di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami peningkatan karena kebutuhan masyarakat akan minyak dan gas bumi akan terus bertambah seiiring dengan pertambahan populasi masyarakat. Sehingga prospek industri migas masih akan terus berkembang. Jika produksi minyak nasional mengalami penurunan, maka Indonesia akan lebih tergantung kepada produk impor migas. Untuk itu, dibutuhkan peran-peran aktif semua stakeholder migas untuk meningkatkan eksplorasi migas.

Sedangkan perkembangan terakhir, harga minyak bumi dunia mengalami gejolak karena perubahan geopolitik dan juga dipicu oleh wabah pandemik Covid19. Namun karena ketidakmenentuan harga minyak bumi dunia tersebut, pemerintah masih belum merubah pagu harga bahan bakar minyak di Indonesia.

Peluang kerja di industri migas juga masih terbuka lebar untuk generasi muda. Karena industri migas mencakup gabungan dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari keteknikan, sosial dan ekonomi. Sedangkan untuk Pertamina, biasanya akan dibuka program BPS (Bimbingan Profesi Sarjana) untuk lulusan-lulusan perguruan tinggi yang berminat meniti karier di Pertamina.

Categories:Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s