asmari purwokerto

Hidup itu Berputar Seperti Roda

Oleh Iwan Samariansyah

Prof Dr Agus Sardjono, SH – Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia dan Musisi

Menelusuri perjalanan hidup seorang Agus Sardjono, ibarat mengendarai roller coaster. Naik turun, kadang mendaki, kadang menurun. Namun di penghujung perjalanan hidupnya kini, Agus menikmati buah manis perjuangan hidupnya yang penuh lika-liku itu. Hidup tenang, seraya berkarya terus di Kampus paling bergengsi di tanah air, Universitas Indonesia.

”Saya menjadi orang hukum itu sebetulnya meleset dari cita-cita awal saya yaitu ingin menjadi seorang arsitek. Waktu saya SMA sebenarnya setelah lulus masuk ke arsitektur tapi karena kemampuan orang tua yang tidak bisa membiayai maka saya sadar diri. Sebab kalau ke arsitektur, saya harus keluar kota, ke Jogja. Dengan kata lain saya keluar uang untuk sekolah, tempat tingal malan dan sebagainya,” kenang pria kelahiran Banyumas, 16 Agustus 1955 itu. 

Kehidupan Agus muda memang begitu bersahaja. Maklum. Orang tuanya ketika itu hanyalah pasangan petani kecil dengan kepemilikan lahan kurang dari satu hektar di Sokaraja, Banyumas. Dia anak ketiga dari tujuh besaudara. Dan dia satu-satunya lelaki sebab semua saudaranya perempuan semua. Semasa sekolah, dia sering membantu pekerjaan sang ayah di sawah. 

”Tidak lama. Sebab ayah saya bertekad agar saya mementingkan belajar dari bekerja membantu dia di sawah. Kecuali pas sudah lulus SMA dan menganggur. Itupun tidak lama. Waktu itu, saya bantu pekerjaan bapak saya di sawah paling dari jam 08.00 – 10.00 WIB. Selebihnya bisa panas sekali. Saya malas,” ujarnya. 

Sehabis itu, dia memilih main atau lempar-lempar burung yang suka menjarah padi yang mulai menguning. ”Pokoknya apa pekerjaan bapak di sawah tetap dibantuin oleh Agus. Selebihnya free. Malam juga bisa ikut ronda dan tidur sama teman-teman. Begadang sampai jam 03.00 dini hari,” kata Agus.

Sewaktu bersekolah di SMA Negeri 2 Purwokerto periode 1972 – 1974 Agus suka dengan pelajaran Fisika. Tak heran bila dia memilih jurusan IPA. Prestasinya semasa sekolah biasa saja, yang penting dia tidak pernah tidak lulus untuk mata pelajaran apapun. Dia juga ikut drumband dan jadi anak band semasa sekolahnya. Olahraga juga tidak begitu pandai. Paling-paling hanya suka ping pong sama basket atau volly.


”Yang paling saya ingat guru-gurunya yang pernah menghukum saya. Hahahaha, waktu itu ada guru agama tuh yang keras banget. Saya pernah ditarik kupingnya keras-keras karena kabur. Ceritanya ada helikopter turun di Purwokerto dan karena saya ingin lihat main kabur saja dari sekolah. Terus pulangnya dihukum,” kenang Agus.


Kemudian dia juga ingat ada guru kimia, yang menghukum suka menggebuk muridnya pakai penggaris kayu. Terus ada juga Ibu Suci, guru Fisika, salah satu pelajaran favoritnya. ”Waktu itu kepala skolahnya Pak Harto, kami bahkan sempat melepas dua guru yang ditugaskan ke Malaysia,” kata Agus.


Soal pelajaran Fisika semasa SMA itu, sebuah kenangan manis sempat dia ingat. Sebagai salah satu pelajaran favoritnya, kalau ada PR atau tugas di kelas maka dia sering ditunjuk paling akhir. ”Kalau orang nggak bisa ngerjain baru saya diminta membereskannya. Jadi saya ini kesayangannya Bu Suci, hahahaha. Kedua, guru kimia, karena Ilmu Kimia itu menurut saya ilmu yang menarik. Saya pernah uji coba pakai rumus kimia. Kok ini ada api, lantas ada air. Nah saya coba, hitung-hitungan Kimia. Dan benar saja, ketika dicampurkan langsung wussshh, menyala. Saya senang mengutak atik rumus, sayangnya sekarang nggak ada yang nyangkut sama sekali. Tapi paling nggak logikanya saya masih dapat,” kisahnya panjang lebar.

Teman-teman seangkatannya di SMA terheran-heran saat mengetahui jagoan Fisika mereka malah berubah menjadi Guru Besar bidang Ilmu Hukum. Rata-rata bertanya kenapa Agus yang dikenal ingin jadi jadi arsitek berubah haluan jadi pengajar Ilmu Hukum. Etapi setelah tahu jalan panjang perjalanan hidup Agus yang penuh perjuangan, merekapun angkat topi.

”Kita baru saja ketemu teman-teman lama. Ramai sekali, ceritanya lucu-lucu. Ada juga cerita tentang cewek, pacaran sama si ini sama si itu. Kalau saya kan nggak sempat begitu. Karena bukannya nggak kepengen cerita-cerita itu, tapi ya tahu dirilah. Boro–boro buat senang-senang, hidup saja sudah susah. Waktu saya sekolah dulu, kalau ada waktu luang, mending saya bantu orang tua, malamnya bergaul sama teman-teman di kampung yang hidupnya sama-sama susah,” ujarnya. 

Yang menarik, Agus sempat bertanya pada beberapa orang yang dulu dia kenal. Dia bisa menarik kesimpulan betapa Tuhan itu benar-benar Maha Adil. Dulu ada sejumlah teman yang dulunya hidup mapan dan bisa dikatakan hidup berkecukupan, lantas pada cerita semua bertukar informasi. Dia tentu saja ingin tahu nasib teman-temannya. Karena dulu itu dia di atas, saya di bawah. Tetapi dunia berputar seperti roda. Sekarang dirinya tidak lagi berada di bawah. Suatu hal yang pantas untuk disyukuri nikmat dari Tuhan.

”Saya dulu selesai SMA memilih untuk tidak melanjutkan kuliah. Saya kasihan sama orang tua. Takut membebani mereka, sebab biaya kuliah tidak sedikit. Jadi ketika pada akhirnya saya lulus SMA, selama setahun saya jadi bambung. Tidak meneruskan kuliah. Saya diam saja di Sokaraja, sementara kawan-kawan saya sudah pergi kemana-mana. Ada yang kuliah, ada pula yang kerja,” kata Guru Besar Fakultas Hukum UI itu.

Meski bambung, Agus tak berkecil hati. Dia menikmati masa selepas SMA nya pada tahun 1974 itu sebagai saat-saat yang penuh kebebasan. Setahun penuh dia kerjanya nongkrong saja di Sokaraja, kota kecil sebelah timur Purwokerto itu. Tidak sekolah. Tidak kerja. ”Ya lontang lantung. Melek malam, nongkrong di jembatan, jadi saya memuaskan diri menjadi anak muda yang baru saja selesai sekolah,” katanya.


Namun kesadaran itu datang juga padanya. Dia kemudian berfikir soal kehidupannya yang bambung itu. ”Jika saya seperti itu terus, saya tidak akan bisa berkembang. Saya harus melakukan sesuatu,” katanya.

Dan begitulah. Pada tahun 1975. Setahun setelah lulus SMA, dia memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta. Hanya berbekal uang Rp 5.000,- dia nekad ke Ibukota Negara.  Jumlah uang sebesar itu masih lumayan nilainya. Meski tidak banyak tetapi bisa beli tiket bus. Orang tuanya yang dipamiti Agus hanya bisa berpesan pada puteranya itu agar baik-baik menjaga diri dan melepaskannya dengan tatapan penuh kasih sayang. 

Agus muda itupun pergi ke terminal bus. Uangnya masih bersisa setelah dia membeli tiket bus sekali jalan Purwokerto – Jakarta. ”Harga tiket saya lupa. Yang jelas saya berangkat ke jakarta dengan tas kecil berisi pakaian seadanya. Itulah kekayaan satu-satunya yang saya punya ketika itu,” ujarnya.


Mengubah Nasib

Dia pergi ke Jakarta tanpa rencana apapun. Kebetulan di Metropolitan Jakarta ada saudara yang juga sama-sama susah dari kampung. Jadi akhirnya Aguspun menumpang hidup pada saudaranya itu. Tidak lama, hanya dua bulanan. Namanya Suripto, seorang pensiunan tentara. 

Melihat anak muda itu belum bekerja, Suripto lantas menawari Agus untuk bekerja membantu dia membesarkan usaha pribadinya. Usaha swasta. Dia bekerja disitu sebagai kreditur barang-barang. Bayarannya bisa mencicil. Baru sedikit bernafas lega mendadak dia dikabari Suripto bahwa perusahaan itu harus ditutup karena perkembangan ekonomi sedang tidak bagus. Bangkrut. Jadilah dia menganggur lagi. 

Akan tetapi salah satu manager yang bekerja di perusahaan lamanya kemudian mengajak Agus membuka peluang usaha lain. Kebetulan dia mempunyai lahan di kawasan serpong, Tangerang. Jaman tahun itu, kawasan Serpong dan BSD masih berupa daerah persawahan dan hutan belantara. 

Di Serpong, bos barunya itu mengajak Agus bekerja menambang pasir. Tugas Agus adalah menjadi operator penggalian pasir. ”Saya dan teman-teman bertugas mengkuliti tanah lapisan atasnya, kemudian digali untuk diambil pasirnya untuk dijual,” katanya.


Dan itulah pekerjaan Agus berikutnya, menjadi mandor tambang pasir. Orang-orang yang tinggal dekat lahan bos barunya itu ikut menggali pasir, kemudian ada truk yang datang untuk mengangkut pasir itu lantas kemudian dijual. 

Situasi itu berjalan sampai sekitar tiga bulanan. Bisa jadi orang yang mempekerjakan Agus itu percaya padanya sehingga dia diminta mengelola armada truknya yang jumlahnya 5-10 unit itu sebaik-baiknya. Agus tinggal setor. ”Merk truknya Ford. Baknya besi panjang,” tukas Agus, mengenang masa-masa itu.

Truk tersebut dipakai untuk mengangkut pasir, lantas dibawa ke kawasan Semen Cibinong. Dia berhenti karena mengalami kecelakaan di daerah Citeureup. Daerah yang seperti juga Serpong masih sepi. Malam-malam gelap gulita, pulang dari proyek dia kehujanan di tengah jalan. Agus menunggang motor. Ketika ada genangan air di depannya dia terjang terus. ”Eh ternyata ada lubang segede gajah. Sayapun  jatuh terjerembab. Selip dan jatuh terguling-guling. Tangan saya patah. Saya terluka dan menggeletak setengah sadar beberapa lama,” katanya. 

Dan untungnya masih ada orang baik yang kemudian membantu menolong dirinya saat kecelakaan itu. Ada kendaraan umum semacam oplet, distop sama penolongnya dan dia kemudian dibawa ke Rawamangun. Karena sakit itulah akhirnya Agus berhenti dan tidak bersedia melanjutkan lagi pekerjaan itu karena sangat berisiko.

Sebulan berlalu. Agus mulai merasa tidak enak hidup menumpang sama orang tanpa pekerjaan. Dia akhirnya pergi ke tempat salah satu kawan dekatnya di kawasan Kebayoran Lama. Namanya Jonar. Kebetulan orang Betawi. Agus mengaku banyak bergaul dengam orang kampung dan kawannya itu orang Betawi yang baik hati. Diapun menginap di tempat kawannya itu, sekaligus makan di situ. 

Kerjanya di Kebayoran Lama hanya main band sama anak-anak setempat. Agus memang memang suka main band sejak SMP. Bakat musik yang dia miliki banyak membantu dia dalam menempuh kehidupan di masa sulit. 

Di sana dia juga mulai mengenal sejumlah seniman, dan hal itu berjalan cukup lama. Agus bisa bergaul akrab dengan para seniman itu, sejumlah penyanyi dan juga pemain band. Bisa dibilang ketika itu Agus sudah mirip gelandangan. Kalau urusan makan masih bisalah, sebab dia bisa ngamen untuk mencari uang. ”Pakaian saya itu dibantu sama yang punya rumah karena saya nggak punya baju. Kebetulan ukuran pakaian anaknya sama dengan saya, hahaha,” kata Agus tergelak-gelak.

Agus bersyukur pernah punya kenalan seperti temannya itu. Orang Betawi yang benar-benar tulus membantunya. Tidak ada istilah keberatan. Agus juga tidak bantu apa-apa dalam artian menjadi pembantu untuk keluarga orang yang ditumpanginya. Sama sekali tidak. Dia hanya menjadi teman main untuk anaknya. Kira-kira sekitar tiga tahun dia hidup bersama keluarga Jonar di Kebayoran Lama. Sampai sekarang dia masih tetap berhubungan baik. Saling menjaga silaturahmi.


Dewi Fortuna rupanya berpihak padanya. Sekitar tahun 1978, dia diajak seorang teman mendaftarkan diri bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Aguspun memberanikan untuk mendaftarkan diri. Tak disangka, dia diterima sebagai CPNS dan bekerja di Kantor Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN). Karena sudah bekerja, diapun bertekad untuk hidup mandiri. Diapun mencari kost yang dekat kantornya.

Lantas diapun berpamitan dari kawan baiknya dan mulai kost. Sebagai CPNS penghasilan yang dia peroleh tidaklah besar. Dia hanya sanggup membayar kamar kost yang murah dan sederhana. Lantainya saja masih tanah dan tempat tidurnya banyak kutu busuknya. ”Ya saya tinggal di kawasan yang mirip slump area (tempat kumuh, red). Saya mampunya segitu apa boleh buat. Gaji saya sebagai CPNS cuma Rp 15ribu. Jadi kalau pagi sarapannya ketupat sayur sama ceker ayam atau kepala ayam,” tuturnya.

Sempat beberapa lama di BAKN, meski gaji kecil tetapi statusnya sudah tidak lontang lantung lagi. Status pekerjaannya lebih jelas dan teratur. Sampai kemudian memasuki tahun 1981, teman-teman di kantornya mengajak Agus kuliah. Kebetulan di Fakultas Hukum UI ada program ekstensi. Kuliahnya sore hari. ”Saya kepikiran, gimana mau kuliah? Biayanya darimana? Gaji juga nggak seberapa. Tetapi saat saya tanya berapa bayar kuliahnya, kata teman saya murah per semester cuma 15 rb. Jadi akhirnya saya nekad mendaftarkan diri,” tukasnya. 

Seingat Agus, ketika itu ada sekitar 30 orang teman sekantornya yang mendaftarkan diri dari satu kantor. Di luar dugaannya, hanya dia saja yang diterima. “Ah sialan, gua yang ngajak, loe yang diterima,” kata teman sekantornya, bersungut-sungut.

Nah sejak saat itulah Agus mulai kuliah sambil bekerja di  BAKN. Waktu pertama kali bekerja, kantornya masih di kawasan Senayan, dekat TVRI. Beberapa tahun kemudian pindah ke samping kantor, dekat Kantor Kemenegpora. Lantas pindah lagi ke Cililitan. Dari Cililitan pindah lagi ke Rawamangun yang dekat dengan Salemba UI, tempat Agus kuliah sore. 

Selama kuliah itulah pekerjaan Agus jadi kacau balau. Dia jadi sering bolos kantor untuk kuliah. Agus tidak peduli sebab dia bertekad menyelesaikan kuliahnya, karena dia menganggap bahwa kuliahnya itulah jalan buatnya mengubah nasibnya. Lama-kelamaan dia mulai tertarik untuk bekerja di lingkungan Fakultas Hukum UI.

Suatu kali dia ditegur atasannya di BAKN. Bukannya kapok, dia malah bilang pada atasannya itu meski jarang masuk kerja, namun bisa dibilang semua beban pekerjaannya sebagai pegawai negeri beres. “Saya fikir saya memang nekad. Kalau saya dimarahi ya saya ganti memarahi dia lagi. Saya bilang padanya : Sekarang bapak bisa jamin hidup saya ndak? Saya sekolah inikan untuk kepentingan kantor juga agar bisa meningkatkan kinerja saya,” ujarnya.

Oleh karena itu Agus meminta agar dirinya tidak usah diganggu dengan urusan absen di kantor. Dia bilang juga pada atasannya untuk tidak usah memikirkan promosi jabatan buatnya. Yang penting pekerjaannya beres. “Saya cuma minta agar kuliah saya jangan diganggu. Saya nggak menuntut diberi promosi, karena saya tahu memang prestasi saya jeblok sebab sering bolos kerja,” kenangnya. 

Lucunya meski sudah bicara terus terang begitu, Agus tetap juga dipromosikan. Agus waktu itu eselonnya paling rendah yaitu eselon lima. Dalam sejarah kantornya, Agus kerap digelari sebagai PNS dengan rekor bolos paling banyak. Saat Upacara tujuh belasan, diumumkan, pejabat eselon lima yang paling suka absennya adalah saya. Diapun tertawa saja sewaktu ada temannya memberitahukan hal itu.


Sampai akhirnya, saat sedang menulis skripsi dia ditawari dua dosen menjadi asisten. Satu hukum material, satu hukum dagang. Diapun pilih hukum dagang dengan berbagai pertimbangan salah satunya makin intensnya masalah hukum bisnis di Indonesia. Akhirnya setelah perjuangannya yang panjang, Agus selesai kuliah Sarjana Hukum di UI pada tahun 1986, tetapi dia baru wisuda pada 22 Februari 1987.

Entah bagaimana kisahnya, karena sudah tidak betah di kantornya yang lama Agus akhirnya minta pindah tempat tugas dari BAKN ke Fakultas Hukum UI. Dia ingin menjadi dosen saja. Ternyata oleh atasannya tidak dikasih dengan alasan waktu kuliah dulu di UI, dirinya tidak minta izin atasan. ”Ya udah, karena tidak dikasih, saya pilih keluar begitu saja dari BAKN. Nekad saja saya waktu itu,” katanya. 

Berakhirlah sudah karirnya sebagai birokrat di BAKN. Lantas karena sudah ada penawaran di Fakultas Hukum UI sebagai asisten dosen maka akhirnya dia menerima hal itu, sembari magang jadi notaris. ”Saya ada teman, notaris yang meminta saya membantu dia. Jadi selama menunggu status di Fakultas Hukum UI itu, dia bekerja pula di kantor notaris itu selama sekitar dua tahun,” katanya.

Barulah setelah dia diangkat menjadi CPNS di UI, dia tidak lagi bekerja di kantor notaris namun full bekerja sebagai dosen. Maka dimulailah karier mantan anak bambung di Sokaraja itu sebagai dosen di Fakultas Hukum UI. Kiprahnya di dunia pendidikan rupanya membawa perubahan besar baginya. 

Dia mulai menata hidupnya, termasuk ketika memutuskan untuk menikah dengan gadis pilihan hatinya Purwani Eko Prihatin pada 1986, saat masih berstatus PNS di BAKN. Pasangan ini lantas dikaruniai sepasang buah hati yaitu Arridhana Ciptadi (lahir Februari 1987) dan Anindya Chandra Dewi (lahir Mei 1988).

”Alhamdulillah, di dunia pendidikan inilah jalan terbuka. Padahal tidak pernah terbayangkan bahwa saya akhirnya masuk ke dunia ini. Saya lantas dikirim belajar ke Italia, mengikuti berbagai pendidikan non formal yang terkait dengan dunia hukum untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan saya,” ujarnya. 


Kebetulan proses perpindahannya dari BAKN ke UI lancar berkat pertemanannya di sana sini. Waktu dia mau keluar, Agus mengatakan pada temannya di BAKN bahwa dia bilang sedang melamar di UI. ”Saya bilang nanti kalo ada usulan masuk, kalau ada kekurangan berkas tidak usah dibalikkan namun bilang pada saya. Nanti saya penuhi apa kekurangannya. Ya jadi begitulah, begitu proses keluar saya di BAKN diproses, maka masuknya saya ke Fakultas Hukum UI juga diproses. Proses pertemanan membantu saya banyak banget. Jadi saat ada kekurangan, teman saya menelepon,’eh Gus kamu kurang ini,’ dan segera saya lengkapi. Beres deh,” ujarnya terkekeh.


Diapun terus meningkatkan karirnya. Terus diberi kesempatan untuk mengambil spesialisasi hukum notariat, dilanjutkan lagi ke S-2 Ilmu Hukum UI. Meski lulus sebagai notaris, dia tidak ambil kesempatan sebagai notaris, sebab sudah tahu pekerjaan notaris seperti apa. 

Setelah lulus S-2 Ilmu Hukum, dia langsung melanjutkan ke S-3 untuk mengejar gelar Doktor Ilmu Hukum. Dia juga berhasil mengumpulkan angka kredit yang memadai hingga akhirnya diapun dilantik sebagai Guru Besar Ilmu Hukum UI. Hingga sekarang. Meski begitu hobby-nya bermusik tetap berlanjut. ”Saya tetap main band dimana-mana saat waktu senggang,” ujarnya seraya menunjukkan gitar di ruang kerjanya di UI.


”Saya sempat punya beberapa band baik beraliran jazz, pop maupun rock. Bahkan sempat pula membuat lagu, rekaman dan album. Bikin sendiri saja sama teman-teman. Kan saya sudah kenal mereka lama sejak masih menggelandang di Jakarta, waktu tinggal sama teman saya di Kebayoran Lama dulu itu, hahahaha,” ujarnya.



Soal keluarga

Saat diminta bercerita tentang kehidupan keluarga, Agus mengaku kehidupannya sudah lengkap dan bahagia. Punya isteri yang dia sayangi setulus hati. Puteranya yang laki-laki sesudah lulus SMA langsung ke Singapura, kuliah di Nanyang Technology University, di bidang komputer. Disana sekitar empat tahun karena dapat beasiswa sehingga harus bekerja di Singapura. Kebetulan kampusnya yang meminta untuk membantu riset di negara pulau itu. Jadi selama dua tahun, dia membantu riset profesornya.


Kebetulan sekali pemilik Nanyang University, entah anaknya atau saudaranya punya hubungan baik dengan beberapa Ilmuwan di Amerika Serikat. Dan karena kenal dengan reputasi puteranya yang sulung akhirnya diterima kuliah Ph.D dibidang komputer di Universitas Georgia, Atlanta, Amerika Serikat. ”Sekarang dia belum selesai kuliah Ph.D nya karena baru berjalan kira-kira dua tahun ini,” ujar Agus.


Sedangkan yang bungsu, anak perempuan kesayangannya sehabis lulus SMA langsung ke Semarang, Jawa Tengah. Masuk ke Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro. Meneruskan cita-cita awal sang ayah yang tadinya ingin menjadi Arsitek. Tidak ada yang mau ikut ilmu bapaknya, ambil jurusan Ilmu Hukum. 

”Jadi itulah garis hidup. Cita-cita bapaknya dikasihkan ke anaknya. Akhirnya anak saya jadi arsitek, kuliah di Undip. Lulus dari sana terus ambil profesi di UI. Sekarang sudah jadi arsitek profesional. Yang perempuan ini sudah menikah, baru Mei 2012 lalu. Tidak lama lagi bila Tuhan mengizinkan saya akan menimang cucu saya,” ujarnya, tersenyum bahagia.


Awal menikah pada 1986, dia mula-mula tinggal di Pondok Indah. Maksudnya Pondok Indah mertua, sebab tidak mampu beli rumah sendiri. Begitu karirnya meningkat mantap, kini keluarga Agus tinggal di Sentul City. Main band masih tetap dilakoni, sembari jadi pejabat Kepala Divisi Hukum dalam organisasi Persatuan Artis, Penyanyi dan Pencipta Lagu yang dipimpin artis yang Anggota DPR Thanthowi Yahya.

”Saya sering ketemu mereka. Juga Toni Wenas, Once Dewa. Di youtube, jika search nama saya, ada semua itu. Di guru besar saya juga punya band, namanya Professor band. Anggotanya para guru besar  di UI. Profesor-profesor yang selain mengajar akademik keilmuan juga masih tetap mencintai musik. Kita sudah lima kali main di Java Jazz Festival,” kata Agus.

Hubungan komunikasi dengan anak-anaknya dijalin secara terbuka. Agus dan isterinya mendidik sendiri anak-anaknya, membimbing mereka tanpa mengekang. Bahkan di usia dewasa, Agus mengaku kini tidak lagi menganggap anak-anaknya seperti anak melainkan teman. Pernah terjadi ada kejadian lucu. Anaknya yang gadis kalau jalan-jalan ke mall bersama sang ayah, selalu minta rangkulan.

”Nah suatu ketika ada temannya istri saya memergoki Agus dan si anak. Diapun mengadu kepada isteri saya. ”Bu, tadi saya lihat si bapak dengan itu loh di mall…” seakan-akan mendapat berita besar. ”Dimana?” Disebutkannya sebuah mall, tentu saja isteri saya ketawa. ”Lahh, itu anak saya,” hahahaha. ”Kok mesra banget,” ujar si pengadu ndak puas. Nah, beda dengan anak saya yang laki-laki. Kita sering main musik bareng karena dia pintar main komputer. Saya main musik, dia yang rekam. Ya seperti teman saja baik yang sulung maupun yang bungsu,” ujarnya.

Kepada generasi muda alumni SMA Negeri 2 Purwokerto, Agus berpesan agar sedari awal menetapkan visi dan misi hidup. ”Saya dulu punya cita-cita tak muluk-muluk. Waktu itu saya hanya kepingin jadi orang baik saja. Titik,” kenangnya. 

Dengan menetapkan visi dan misi untuk menjadi orang baik saja maka hidup menjadi lebih sederhana dan tidak rumit. Dan karena untuk menjadi orang baik itu tidak susah maka yang lain bakalan datang dengan sendirinya. Dengan menjadi orang baik, teman akan datang dengan sendirinya, orang akan ringan untuk membantu, hanya bermodalkan menjadi orang baik. 

Menjadi orang baik itu bermakna orang tidak perlu mencuri, berbohong, main perempuan, minum, dan usahakan berperilaku jangan sampai menyakiti orang lain. Jadilah orang baik dari hati nurani. Bukan karena baik sebab ada maunya, tetapi benar-benar tulus dan ikhlas. ”Meski karakter saya sebagai orang bayumas masih ada, tegas dan lugas. Akan tetapi itu tidak menutup sifat natural kita,” kata Agus.

Agus juga memiliki pengalaman spiritual yang menarik. Semasa kecil dulu dia bergaul akrab dengan anak-anak kauman, pengajian di Sokaraja. Makanya dia bisa baca Al-Qur’an, juga kitab kuning yang sangat tradisional sebab bahasa Arab yang dipakai adalah bahasa Arab gundul, tanpa tanda baca. Begitu lulus SMA, sebagaimana dikisahkan di atas, dia pindah ke Jakarta. 

Dan Agus lantas bertemu dengan beberapa orang yang giat mencari ilmu agama. Agus juga rajin mengaji untuk menjaga semangat spiritual yang ada pada dirinya. Kebetulan dia senang mencoba-coba hal baru. Dan di Jakarta modelnya ada macam-macam, berbagai aliran ada. Agus pernah ikut pengajian yang diadakan kelompok Islam radikal, kelompok Muhammadiyah, tetapi juga pernah ikut pengajian Nurcholis Madjid yang liberal. Sehingga mosaik keagamaan yang difahami Agus begitu berwarna.

“Akan tetapi justru dengan begitu saya bisa mengerti dan esensi dari agama itu. Ternyata agama itu bukan sorban, jenggot atau pakaian yang mencerminkan kearaban akan tetapi lebih ke ajaran soal perilaku. Sebab ajaran Rasulullah Muhammad SAW itu lebih pada soal perilaku. Rasul sendiri menegaskan bahwa dia diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak, jadi bukan yang lain,” tukasnya. 

Menurut dia, justru dengan berangkat dari akhlak, dengan berperilaku yang baik maka kebaikan yang lain akan datang dengan sendirinya. Itu poin utama pesan saya. Jadilah orang yang baik, bukan hanya baik budi, akan tetapi baik dalam segala-galanya. Usaha tetap ada, doa juga tetap. Pasrah dan bersikap ikhlas itulah esensi Islam yang difahami Agus. Pendek kata, dengan keberadaan kita, maka orang lain ikut aman dan merasa tidak terancam. Orang lain senang ketika kita ada. Kalau bisa seperti itu maka yang lain-lain akan datang dengan sendirinya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s